Materi Kerajaan Cirebon

10 min read

Latar Belakang Kerajaan Cirebon

Menurut Sulendraningrat yang mendasarkan pada naskah Babad Tanah Sunda dan Atja pada naskah Carita Purwaka Caruban Nagari, Cirebon pada awalnya adalah sebuah dukuh kecil yang dibangun oleh Ki Gedeng Tapa, yang lama-kelamaan berkembang menjadi sebuah desa yang ramai dan diberi nama Caruban (Bahasa Sunda: campuran), karena di sana bercampur para pendatang dari berbagai macam suku bangsa, agama, bahasa, adat istiadat, dan mata pencaharian yang berbeda-beda untuk bertempat tinggal atau berdagang.

Kerajaan-Cirebon

Mengingat pada awalnya sebagian besar mata pencaharian masyarakat adalah sebagai nelayan, maka berkembanglah pekerjaan menangkap ikan dan rebon (udang kecil) di sepanjang pantai serta pembuatan terasi, petis, dan garam. Dari istilah air bekas pembuatan terasi (belendrang) dari udang rebon inilah berkembanglah sebutan cai-rebon (Bahasa Sunda:, air rebon) yang kemudian menjadi Cirebon.

Dengan dukungan pelabuhan yang ramai dan sumber daya alam dari pedalaman, Cirebon kemudian menjadi sebuah kota besar dan menjadi salah satu pelabuhan penting di pesisir utara Jawa baik dalam kegiatan pelayaran dan perdagangan di kepulauan Nusantara maupun dengan bagian dunia lainnya. Selain itu, Cirebon tumbuh menjadi cikal bakal pusat penyebaran agama Islam di Jawa Barat.


Sejarah Kerajaan Cirebon

Kerajaan Cirebon adalah Kerajaan Islam terbesar dan pertama di Jawa Barat. Dalam proses perkembangannya Kerajaan Cirebon mengalami kemajuan yang sangat pesat di bidang perdagangan dan penyebaran Agama Islam. Cirebon memiliki letak yang sangat strategis karena pelabuhan di Cirebon disinggahi pedagang-pedagang dari luar. Tak dapat di sangkal Cirebon pernah menjadi  pangkalan penting dalam jalur perdagangan dan pelayaran antar bangsa, lokasinya terletak di bibir pantai antara Jawa Tengah dan Jawa Barat .

Lewat Sunan Gunung Jati Kerajaan Cirebon menjadi kerajaan yang merdeka dari Kerajaan Padjajaran yang kemudian Sunan Gunung Jati menjadi raja pertama di Kerajaan Cirebon. Dalam konteks berikutnya Sunan Gunung Jati menyebarkan dakwahnya di Jawa Barat dan menjadi dari salah satu anggota Wali Songo.  Kerajaan Cirebon mengalami masa puncak kejayaannya pada masa Sunan Gunung Jati karena pada masa pemerintahannya Kerajaan Cirebon menjadi kerajaan besar dan menjadi pusat agama islam di Jawa Barat, pada masa pemerintahan Sunan Gunung Jati juga Kerajaan Cirebon berhasil mengusir Bangsa Portugis di Sunda Kelapa. Namun disamping masa keemasan Kerajaan Cirebon, pada akhir abad 17 mengalami kemundran. Faktor kemunduran Kerajaan Cirebon ialah kedatangan Bangsa Eropa yaitu Bangsa Belanda dengan persatuan dagangnya yaitu VOC .

Disisi lain yang menyebabkan kemunduran Kerajaan Cirebon yaitu menjadi perebutan kekuasaan antara Mataram dan Kesultanan Banten sehingga Kerajaan Cirebon mengalami kekosongan kekuasaan, karena rajanya ditahan di Mataram sehingga membuat terpecahnya kerajaan tersebut menjadi dua kerajaan yaitu Kesultanan Kasepuhan dengan sultannya Pangeran Martawijaya dan Kesultanan Kanoman dengan sultannya Pangeran Kertawijaya, sedangkan anak yang ketiga Pangeran Wangsakerta hanya menjadi Panembahan di Kesultanan Kasepuhan. Pada tanggal 7 Januari 1681 Kerajaan Cirebon mengadakan perjanjian dengan VOC yang membuat  Kerajaan Cirebon mengalami keruntuhan.

Sepeninggal Sunan Gunung Jati, kedaulatan dan kewibawaan Kerajaan Cirebon terus berlanjut hingga kurang lebih satu abad sepeninggalan beliau. Kerajaan Cirebon mulai mundur ketika dijabat oleh Panembahan Girilaya karena sepeninggalan Panembahan Ratu 1, para penggantinya tidak memiliki kualifikasi yang cakap sebagai leader, di samping secara eksternal, kekuatan Mataram dan Banten mengalami perubahan sikap dalam memandang keberadaan Cirebon, yang tidak lagi sebagai kerajaan yang di hormati dan berwibawa sebagai mana pada masa Sunan Gunung Jati dan Panembahan Ratu.

Pada masanya Cirebon dalam posisi terjepit karena dua kekuasaan yang sama-sama berambisi menjadi dipertuan agung di tanah Jawa. Disebelah timur, penguasa Mataram, dipimpin oleh Sunan Amangkurat 1 yang penuh dengan ambisi kekuasaan. Sementara disebelah barat, Banten di pimpin oleh Sultan Ageng Tirtayasa yang bercita-cita menjadikan Banten negara Islam yang terkuat di Jawa. Pada tahun 1649 ketika Pangeran  Girilaya di undang datang ke Mataram bersama dua orang putranya kemudian mereka tidak diperkenankan kembali ke Cirebon, karena di anggap Cirebon lebih berpihak ke Banten, hal ini menyebabkan di Kerajaan Cirebon mengalami kekosongan pemerintahan. Sultan Ageng Tirtayasa sangat marah melihat kondisi Cirebon  yang tidak lagi merdeka dan menganggap dirinya pelindung penguasa Cirebon sebagai kerabatnya yang harus dibebaskan, kemudian ia segera mengatur siasat untuk melawan Mataram . Di ibu kota Mataram, Amangkurat 1 kewalahan menghadapi pemberontakan Trunojoyo dan akhirnya Amangkurat 1 melarikan diri, ketika Keraton Mataram di kuasai oleh Trunojoyo, Panembahan Girilaya meminta kepada Trunojoyo untuk membawa kedua putranya ke Banten, kemudian kedua putra mahkota diberangkatkan dari Kediri ke Banten yang kemudian Pangeran Wangsakerta yang tinggal di Cirebon datang juga ke Banten. Sesampainya di Banten kemudian Sultan Ageng Tirtayasa membagi Keraton Cirebon menjadi dua yaitu Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, hal inilah mulai ada tanda-tanda keruntuhan Kesultanan Cirebon, Pangeran Martawijaya menjadi Sultan Kasepuhan dan Pangeran Kartawijaya menjadi Sultan Kanoman, sedangkan Pangeran Wangsakerta menjadi Panembahan. Faktor yang kedua yaitu konflik internal bermula ketika Pangeran Syamsudin Martawijaya sebagai putra tertua dengan adiknya Pangeran Kertawijaya menuntut agar tahta Kerajaan Cirebon jatuh kepadanya karena ia beranggapan sebagai pewaris yang syah. Sebagai puncaknya ia menyampaikan keinginannya ke VOC, inilah titik awal VOC ikut campur di Kerajaan Cirebon

Baca Juga:  Faktor Penyebab Runtuhnya Kerajaan Bercorak Hindu Budha

Kedatangan VOC inilah juga sebagai faktor lain runtuhnya Kerajaan Cirebon. Sesudah faktor pertama dan kedua di dalam pemerintahan Kerajaan tersebut, pemerintah Kolonial Belanda semakin ikut campur dalam mengatur Cirebon, sehingga surutlah peranan dari keraton-keraton Cirebon.  Adanya VOC yang kian getol menginginkan menaklukan Kerajaan Cirebon memang telah lama diincar, namun usaha awalnya ketika masa Syarif Hidayatullah hingga Panembahan Ratu II tidak berhasil. Barulah sepeninggal Panembahan Ratu II, Cirebon kian di landa krisis politik dan pemerintahan. Kedudukannya yang juga semakin terancam dari Mataram, Banten dan VOC. Hubungan Cirebon dan VOC pada awalnya memang terjadi sebagai rekan dalam hal perdagangan dan perjanjian-perjanjian dalam meningkatkan usaha dagang antara keduanya. Namun VOC rupanya menginginkan lebih dari Cirebon, dan ingin menguasai Cirebon seluruhnya.

Pada awal perpecahan di Keraton Kasepuhan, VOC memang belum ikut campur, namun barulah pada Keraton Kanoman, VOC mulai menerapkan politik Devide Et Impire nya. Hasilnya Keraton Kanoman yang di duduki Sultan Anom IV ingin memisahkan diri dengan membuat Kesultanan baru yang di beri nama Keraton Kacirebonan, dengan demikian di Cirebon mempunyai tiga Keraton dan hal tersebut membuat kekuasaan Kerajaan Cirebon menjadi sangat lemah.

VOC banyak memanfaatkan dari konflik-konflik di Keraton Cirebon sehingga terjadi pula beberapa perjanjian-perjanjian antara pihak Kerajaan Cirebon  dengan VOC. Diantaranya yakni perjanjian 7 Januari 1681. Yang hasil dari keduaya yaitu ekonomi dan perdagangan kian dikuasai dan di monopoli oleh VOC. Menurut sejarawan Belanda H.T. Colenbrander menjawab makna di balik perjanjian persahabatan antara Cirebon dan VOC tersebut, menandakan kemenangan VOC dalam membawa sekaligus menjadikan Cirebon ada di bawah pengaruhnya, dengan demikian  ia berkuasa membuat hukum dibolehkannya impor opium dan candu serta ekspor gula, lada sebagai komoditas utama di Cirebon.

Kerajaan Belanda kemudian untuk pertama kalinya secara definitif menempatkan seorang Residen yang berprofesi sebagai pedagang yaitu Marten Samson pada tahun 1685 . Residen adalah wakil Belanda yang bertugas mengawasi dalam hal administratif, yudikatif, legislatif serta menjembatani antara Gubernur Jendral dengan para Sultan.

Tahun 1800, ketika VOC bubar dan digantikan oleh pemerintahan Belanda, Gubernur Jendral Daendels menetapkan langkah strategis yakni dengan di keluarkannya Reglement op het beheer van de Cheribonsche landen pada 2 Februari 1809, isinya yaitu semua sultan-sultan yang ada di Cirebon yang sedang berkuasa dicabut masa kekuasaannya, dan mereka semua di jadikan pegawai kolonial Belanda. Kemudian Cirebon menjadi Karesidenan, wilayah Karesidenan Cirebon meliputi : Indramayu, Gebang, daerah Kesultanan Cirebon yang meliputi Majalengka, Kuningan, Galuh, Limbangan, dan Sukapura. Pada tanggal 5 Januari 1819 keluar besluit Komisaris Jendral Hindia Belanda NO.23 yang menetapkan Karesidenan Cirebon terdiri dari lima Kabupaten yaitu: Kabupaten Cirebon, Bengawan Wetan, Maja, Kuningan dan Galuh. Dengan demikian selesailah kekuasaan Kerajaan Cirebon.

Pada masa ini juga kondisi perekonomian Cirebon makin terpuruk, karena pegawai VOC bertindak semena-mena dalam menarik pajak, imbasnya pada tahun 1719-1812 rakyat Cirebon mengalami bencana kelaparan dan wabah penyakit. Titik kulminasi dari keadaan yang memperhatinkan ini  adalah pecahnya pemberontakan Cirebon yang berlangsung dari tahun 1806-1818 dipimpin oleh tokoh-tokoh keturunan keraton, di antaranya Ki Bagus Rangin, Ki Bagus Serit dan Pangeran Suryanagara yang sejak awal tidak suka dengan intervensi Belanda. Walaupun pada akhirnya pemberontakan ini dapat di padamkan, namun telah  menelan kerugian yang sangat besar di pihak Belanda.

Terjadinya keruntuhan di Kerajaan Cirebon di sebabkan  oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internalnya yaitu perebutan kekuasaan antara anak-anak Pangeran Girilaya yaitu Pangeran Martawijaya, Pangeran Kertawijaya, Pangeran wangsakerta. Faktor eksternalnya yaitu ikut campur tangannya Sultan Banten dan VOC, dari campur tangan Sultan Banten Kerajaan Cirebon dibagi menjadi dua yaitu Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan. Yang pada perpecahan ini pula mulai ikut campur tangan VOC. Meski awalnya hanya kerjasama dalam hal perdagangan, namun akhirnya VOC ingin memonopoli perdagangan di Cirebon.

Perjanjian yang dilakukan Cirebon dengan VOC pada akhirnya menyebabkan VOC ikut campur dalam pemerintahan Kesultanan Cirebon. Sehingga faktor keruntuhan Kesultanan Cirebon di pengaruhi oleh campur tangan VOC, hasil akhir dari keikut sertaan VOC puncaknya yaitu VOC menghapuskan Pemerintahan Kesultanan Cirebon dan menggantinya dengan Gemeente Charbon. Bangsawan Kesultanan Cirebon yang tidak sepaham dengan politik di Kesultanan Cirebon kemudian keluar dari keraton dan mendirikan Pesantren-pesantren dan membuat kekuatan baru untuk melawan Belanda.


Raja Kerajaan Cirebon

Berikut adalah raja-raja kerajaan cirebon, antara lain:


  • (1) Pangeran Cakrabuana (…. –1479)

Pangeran Cakrabuana adalah keturunan Pajajaran. Putera pertama Sri Baduga Maharaja Prabu Siliwangi dari istrinya yang kedua bernama SubangLarang (puteri Ki Gedeng Tapa). Nama kecilnya adalah Raden Walangsungsang, setelah remaja dikenal dengan nama Kian Santang. Ia mempunyai dua orang saudara seibu, yaitu Nyai Lara Santang/ Syarifah Mudaim dan Raden Sangara.

Sebagai anak sulung dan laki-laki ia tidak mendapatkan haknya sebagai putera mahkota Pakuan Pajajaran. Hal ini disebabkan oleh karena ia memeluk agama Islam (diturunkan oleh Subanglarang – ibunya), sementara saat itu (abad 16) ajaran agama mayoritas di Pajajaran adalah Sunda Wiwitan (agama leluhur orang Sunda) Hindu dan Budha. Posisinya digantikan oleh adiknya, Prabu Surawisesa, anak laki-laki Prabu Siliwangi dari istrinya yang ketiga Nyai Cantring Manikmayang.

Baca Juga:  Materi Kerajaan Tulang Bawang

Ketika kakeknya Ki Gedeng Tapa yang penguasa pesisir utara Jawa meninggal, Walangsungsang tidak meneruskan kedudukan kakeknya, melainkan lalu mendirikan istana Pakungwati dan membentuk pemerintahan di Cirebon. Dengan demikian, yang dianggap sebagai pendiri pertama Kesultanan Cirebon adalah Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana. Pangeran Cakrabuana, yang usai menunaikan ibadah haji kemudian disebut Haji Abdullah Iman, tampil sebagai “raja” Cirebon pertama yang memerintah dari keraton Pakungwati dan aktif menyebarkan agama Islam kepada penduduk Cirebon.


  • (2) Sunan Gunung Jati (1479-1568)

Pada tahun 1479 M, kedudukannya kemudian digantikan putra adiknya, Nyai Rarasantang dari hasil perkawinannya dengan Syarif Abdullah dari Mesir, yakni Syarif Hidayatullah (1448-1568) yang setelah wafat dikenal dengan sebutan Sunan Gunung Jati dengan gelar Tumenggung Syarif Hidayatullah bin Maulana Sultan Muhammad Syarif Abdullah dan bergelar pula sebagai Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Awlya Allah Kutubid Jaman Khalifatur Rasulullah. Pertumbuhan dan perkembangan yang pesat pada Kesultanan Cirebon dimulailah oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Sunan Gunung Jati kemudian diyakini sebagai pendiri dinasti raja- raja Kesultanan Cirebon dan Kesultanan Banten serta penyebar agama Islam di Jawa Barat seperti Majalengka, Kuningan, Kawali (Galuh), Sunda Kelapa, dan Banten. Setelah Sunan Gunung Jati wafat, terjadilah kekosongan jabatan pimpinan tertinggi kerajaan Islam Cirebon. Pada mulanya calon kuat pengganti Sunan Gunung Jati ialah Pangeran Dipati Carbon, Putra Pangeran Pasarean, cucu Sunan Gunung Jati. Namun, Pangeran Dipati Carbon meninggal lebih dahulu pada tahun 1565.


  • (3) Fatahillah (1568-1570)

Kekosongan pemegang kekuasaan itu kemudian diisi dengan mengukuhkan pejabat keraton yang selama Sunan Gunung Jati melaksanakan tugas dakwah, pemerintahan dijabat oleh Fatahillah atau Fadillah Khan. Fatahillah kemudian naik takhta, dan memerintah Cirebon secara resmi menjadi raja sejak tahun 1568. Fatahillah menduduki takhta kerajaan Cirebon hanya berlangsung dua tahun karena ia meninggal dunia pada tahun 1570, dua tahun setelah Sunan Gunung Jati wafat dan dimakamkan berdampingan dengan makam Sunan Gunung Jati di Gedung Jinem Astana Gunung Sembung.


  • (4) Panembahan Ratu I (1570-1649)

Sepeninggal Fatahillah, oleh karena tidak ada calon lain yang layak menjadi raja, takhta kerajaan jatuh kepada cucu Sunan Gunung Jati yaitu Pangeran Emas putra tertua Pangeran Dipati Carbon atau cicit Sunan Gunung Jati. Pangeran Emas kemudian bergelar Panembahan Ratu I dan memerintah Cirebon selama kurang lebih 79 tahun.


  • (5) Panembahan Ratu II (1649-1677)

Setelah Panembahan Ratu I meninggal dunia pada tahun 1649, pemerintahan Kesultanan Cirebon dilanjutkan oleh cucunya yang bernama Pangeran Rasmi atau Pangeran Karim, karena ayah Pangeran Rasmi yaitu Pangeran Seda ing Gayam atau Panembahan Adiningkusumah meninggal lebih dahulu. Pangeran Rasmi kemudian menggunakan nama gelar ayahnya almarhum yakni Panembahan Adiningkusuma yang kemudian dikenal pula dengan sebutan Panembahan Girilaya atau Panembahan Ratu II.

Panembahan Girilaya pada masa pemerintahannya terjepit di antara dua kekuatan kekuasaan, yaitu Kesultanan Banten dan Kesultanan Mataram. Banten merasa curiga sebab Cirebon dianggap lebih mendekat ke Mataram (Amangkurat I adalah mertua Panembahan Girilaya). Mataram dilain pihak merasa curiga bahwa Cirebon tidak sungguh-sungguh mendekatkan diri, karena Panembahan Girilaya dan Sultan Ageng Tirtayasa dari Banten adalah sama-sama keturunan Pajajaran. Kondisi ini memuncak dengan meninggalnya Panembahan Girilaya di Kartasura dan ditahannya Pangeran Martawijaya dan Pangeran Kartawijaya di Mataram.

Panembahan Girilaya adalah menantu Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram (Islam). Makamnya di Jogjakarta, di bukit Giriloyo, dekat dengan makam raja raja Mataram di Imogiri. Menurut beberapa sumber di Imogiri maupun Giriloyo, tinggi makam Panembahan Giriloyo adalah sejajar dengan makam Sultan Agung di Imogiri.


Kehidupan Politik Kerajaan Cirebon

Sumber-sumber setempat menganggap pendiri Cirebon adalah Walangsungsang, namun orang yang berhasil meningkatkan statusnya menjadi sebuah kesultanan adalah Syarif Hidayatullah yang oleh Babad Cirebon dikatakan identik dengan Sunan Gunung Jati (Wali Songo). Sumber ini juga mengatakan bahwa Sunan Gunung Jati adalah keponakan dan pengganti Pangeran Cakrabuana. Dialah pendiri dinasti raja-raja Cirebon dan kemudian juga Banten. Setelah Cirebon resmi berdiri sebagai sebuah kerajaan Islam, Sunan Gunung Jati berusaha mempengaruhi kerajaan Pajajaran yang belum menganut agama Islam.

Ia mengembangkan agama ke daerah-daerah lain di Jawa Barat. Setelah Sunan Gunung Jati wafat (menurut Negarakertabhumi dan Purwaka Caruban Nagari tahun 1568), dia digantikan oleh cucunya yang terkenal dengan gelar Pangeran Ratu atau Panembahan Ratu. Pada masa pemerintahannya, Cirebon berada di bawah pengaruh Mataram. Kendati demikian, hubungan kedua kesultanan itu selalu berada dalam suasana perdamaian. Kesultanan Cirebon tidak pernah mengadakan perlawanan terhadap Mataram. Pada tahun 1590, raja Mataram , Panembahan Senapati, membantu para pemimpin agama dan raja Cirebon untuk memperkuat tembok yang mengelilingi kota Cirebon.

Mataram menganggap raja-raja Cirebon sebagai keturunan orang suci karena Cirebon lebih dahulu menerima Islam. Pada tahun 1636 Panembahan Ratu berkunjung ke Mataram sebagai penghormatan kepada Sultan Agung yang telah menguasai sebagian pulau Jawa. Panembahan Ratu wafat pada tahun 1650 dan digantikan oleh putranya yang bergelar Panembahan Girilaya. Keutuhan Cirebon sebagai satu kerajaan hanya sampai pada masa Panembahan Girilaya (1650-1662). Sepeninggalnya, sesuai dengan kehendaknya sendiri, Cirebon diperintah oleh dua putranya, Martawijaya (Panembahan Sepuh) dan Kartawijaya (Panembahan Anom).

Baca Juga:  Kerajaan Budha Di Indonesia

Panembahan Sepuh memimpin kesultanan Kasepuhan dengan gelar Syamsuddin, sementara Panembahan Anom memimpin Kesultanan Kanoman dengan gelar Badruddin. Saudara mereka, Wangsakerta, mendapat tanah seribu cacah (ukuran tanah sesuai dengan jumlah rumah tangga yang merupakan sumber tenaga). Perpecahan tersebut menyebabkan kedudukan Kesultanan Cirebon menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua kesultanan menjadi proteksi VOC. Bahkan pada waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi perebutan kekuasaan di antara kedua putranya. Keadaan demikian mengakibatkan kedudukan VOC semakin kokoh.


Kehidupan Ekonomi Kerajaan Cirebon

Setelah perjanjian 7 Januari 1681 antara kerajaan Cirebon dan VOC, keraton Cirebon semakin jauh dari kehidupan kelautan dan perdagangan, karena VOC memegang hak monopoli atas beberapa jenis komoditas perdagangan dan pelabuhan.


Kehidupan Sosial Kerajaan Cirebon

Cirebon berasal dari kata “caruban” yang artinya campuran. Diperkirakan masyarakat Cirebon merupakn campuran dari kelompok pedagang pribumi dengan keluarga-keluarga Cina yang telah menganut Islam. Menurut Sumber berita tertua tentang Cirebon, satu rombongan keluarga Cina telah mendarat dan menetap di Gresik. Seorang yang paling terkemuka adalah Cu-cu, Keluarga Cu-cu yang sudah menganut agama Islam kemudian mendapat kepercayaan dari pemerintah Demak untuk mendirikan perkampungan di daerah Barat. Atas kesungguhan dan ketekunan mereka bekerja maka berdirilah sebuah perkampungan yang disebut Cirebon.


Kehidupan Budaya Kerajaan Cirebon

Keraton para keturunan Sunan Gunung Jati tetap dipertahankan di bawah kekuasaan dan pengaruh pemerintah Hindia Belanda. Kesultanan itu bahkan masih dipertahankan sampai sekarang. Meskipun tidak memiliki pemerintahan administratif, mereka tetap meneruskan tradisi Kesultanan Cirebon. Misalnya, melaksanakan Panjang Jimat (peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw) dan memelihara makam leluhurnya Sunan Gunung Jati.


Masa Kejayaan Kerajaan Cirebon

  1. Pendidikan keagamaan di Cirebon terus berkembang.
  2. Pada abad ke-17 dan ke-18 di keraton-keraton Cirebon berkembang kegiatan-kegiatan sastra yang sangat memikat perhatian.

Perpecayaan Pada Kerajaan Cirebon

Dengan kematian Panembahan Girilaya, maka terjadi kekosongan penguasa. Sultan Ageng Tirtayasa segera menobatkan Pangeran Wangsakerta sebagai pengganti Panembahan Girilaya, atas tanggung jawab pihak Banten. Sultan Ageng Tirtayasa kemudian mengirimkan pasukan dan kapal perang untuk membantu Trunojoyo, yang saat itu sedang memerangi Amangkurat I dari Mataram.

Dengan bantuan Trunojoyo, maka kedua putra Panembahan Girilaya yang ditahan akhirnya dapat dibebaskan dan dibawa kembali ke Cirebon untuk kemudian juga dinobatkan sebagai penguasa Kesultanan Cirebon.


  • Perpecahan I (1677)

Pembagian pertama terhadap Kesultanan Cirebon, dengan demikian terjadi pada masa penobatan tiga orang putra Panembahan Girilaya, yaitu Sultan Sepuh, Sultan Anom, dan Panembahan Cirebon pada tahun 1677.

Ini merupakan babak baru bagi keraton Cirebon, dimana kesultanan terpecah menjadi tiga dan masing-masing berkuasa dan menurunkan para sultan berikutnya. Dengan demikian, para penguasa Kesultanan Cirebon berikutnya adalah:

  1. Sultan Keraton Kasepuhan Pangeran Martawijaya, dengan gelar Sultan Sepuh Abil Makarimi Muhammad Samsudin (1677-1703)
  2. Sultan Kanoman, Pangeran Kartawijaya, dengan gelar Sultan Anom Abil Makarimi Muhammad Badrudin (1677-1723
  3. Pangeran Wangsakerta, sebagai Panembahan Cirebon dengan gelar Pangeran Abdul Kamil Muhammad Nasarudin atau Panembahan Tohpati (1677-1713).

Perubahan gelar dari Panembahan menjadi Sultan bagi dua putra tertua Pangeran Girilaya ini dilakukan oleh Sultan Ageng Tirtayasa, karena keduanya dilantik menjadi Sultan Cirebon di ibukota Banten. Sebagai sultan, mereka mempunyai wilayah kekuasaan penuh, rakyat, dan keraton masing- masing. Pangeran Wangsakerta tidak diangkat menjadi sultan melainkan hanya Panembahan. Ia tidak memiliki wilayah kekuasaan atau keraton sendiri, akan tetapi berdiri sebagai kaprabonan (paguron), yaitu tempat belajar para intelektual keraton. Dalam tradisi kesultanan di Cirebon, suksesi kekuasaan sejak tahun 1677 berlangsung sesuai dengan tradisi keraton, di mana seorang sultan akan menurunkan takhtanya kepada anak laki-laki tertua dari permaisurinya. Jika tidak ada, akan dicari cucu atau cicitnya. Jika terpaksa, maka orang lain yang dapat memangku jabatan itu sebagai pejabat sementara.


  • Perpecahan II (1807)

Suksesi para sultan selanjutnya pada umumnya berjalan lancar, sampai pada masa pemerintahan Sultan Anom IV (1798-1803), dimana terjadi perpecahan karena salah seorang putranya, yaitu Pangeran Raja Kanoman, ingin memisahkan diri membangun kesultanan sendiri dengan nama Kesultanan Kacirebonan. Kehendak Pangeran Raja Kanoman didukung oleh pemerintah Kolonial Belanda dengan keluarnya besluit (Bahasa Belanda: surat keputusan) Gubernur Jenderal Belanda yang mengangkat Pangeran Raja Kanoman menjadi Sultan Carbon Kacirebonan tahun 1807 dengan pembatasan bahwa putra dan para penggantinya tidak berhak atas gelar sultan, cukup dengan gelar pangeran. Sejak itu di Kesultanan Cirebon bertambah satu penguasa lagi, yaitu Kesultanan Kacirebonan, pecahan dari Kesultanan Kanoman. Sementara tahta Sultan Kanoman V jatuh pada putra Sultan Anom IV yang lain bernama Sultan Anom Abusoleh Imamuddin (1803-1811).


Runtuhnya Kerajaan Cirebon

Beberapa faktor penyebab kemunduran kerajaan ini adalah :

  1. Perpecahan antara saudara menyebabkan kedudukan Kesultanan Cirebon menjadi lemah sehingga pada tahun 1681 kedua kesultanan menjadi proteksi VOC.
  2. Pada waktu Panembahan Sepuh meninggal dunia (1697), terjadi perebutan kekuasaan di antara kedua putranya. Keadaan demikian mengakibatkan kedudukan VOC semakin kokoh.
  3. Dalam Perjanjian Kertasura 1705 antara Mataram dan VOC disebutkan bahwa Cirebon berada di bawah pengawasan langsung VOC.

Daftar Pustaka

  • Kemenbud Ri , Kota dagang Cirebon Sebagai Bandar Jalur Sutra, (1998), Jakarta
  • Departemen Pendidikan Nasional, Sejarah kerajaan tradisional Cirebon, (2001), Jakarta

Share this: